
Bandar Lampung (UpdateSiger.com) – Aksi tawuran yang diduga melibatkan pelajar dari dua sekolah menengah atas di Kota Bandar Lampung terjadi di kawasan Jalan Turi, Perumahan Beringin Raya, Kecamatan Kemiling, Jumat (22/5/2026). Berkat respons cepat aparat kepolisian, kerumunan berhasil dibubarkan dan situasi keamanan di lokasi dapat segera dikendalikan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.30 WIB itu sempat mengundang perhatian warga sekitar. Informasi yang diterima kepolisian menyebutkan bahwa sejumlah pelajar yang diduga berasal dari SMAN 7 Bandar Lampung dan SMAN 14 Bandar Lampung terlibat dalam aksi saling serang. Menindaklanjuti laporan masyarakat, personel Polsek Kemiling langsung menuju lokasi untuk melakukan pengamanan dan mengurai massa yang berkumpul.
Kapolsek Kemiling, IPTU Putri Tristiyowati, menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi lengkap kejadian. Berdasarkan pemeriksaan awal terhadap seorang pelajar yang diamankan, diketahui bahwa siswa tersebut datang ke lokasi setelah menerima ajakan dari dua rekannya melalui aplikasi WhatsApp.
“Dari keterangan awal yang kami peroleh, yang bersangkutan datang ke lokasi setelah diajak oleh rekannya. Saat tiba di lokasi, kondisi sudah dalam keadaan ricuh dan melibatkan dua kelompok pelajar,” ujar IPTU Putri Tristiyowati.
Menurut hasil pemeriksaan sementara, pelajar tersebut bersama rekannya berusaha meninggalkan lokasi ketika situasi semakin tidak terkendali. Namun dalam perjalanan, sepeda motor yang mereka gunakan terjatuh akibat kondisi jalan yang licin setelah hujan mengguyur kawasan tersebut.
Setelah terjatuh, mereka mengaku sempat mendapatkan serangan dari kelompok lain lantas lebih memilih menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, siswa tersebut kembali ke lokasi untuk mengambil kendaraan yang tertinggal. Ketika kembali, warga bersama aparat kepolisian telah berada di lokasi untuk mengamankan situasi.
Dari hasil penanganan di lapangan, polisi mengamankan satu orang pelajar beserta sejumlah barang bukti. Barang bukti tersebut meliputi satu unit sepeda motor Honda Vario berwarna putih, satu setel seragam Pramuka yang masih dilengkapi atribut sekolah, serta dua kartu identitas milik rekan pelajar yang diduga turut berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Hingga Jumat sore, siswa yang diamankan masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Kemiling. Penyidik juga terus mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, termasuk saksi di lokasi dan pihak sekolah, guna memastikan rangkaian peristiwa secara utuh serta menelusuri kemungkinan keterlibatan pelajar lainnya.
“Kami masih melakukan pendalaman dan mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak untuk memperoleh gambaran yang lengkap mengenai kejadian ini. Semua informasi akan kami verifikasi agar penanganannya tepat dan objektif,” ucap Kapolsek.
Selain melakukan proses penyelidikan, Polsek Kemiling juga menyiapkan langkah penyelesaian yang mengedepankan pendekatan edukatif dan pembinaan. Untuk itu, kepolisian menjadwalkan pertemuan mediasi pada Sabtu (23/5/2026) yang akan melibatkan pihak sekolah, orang tua siswa, tokoh masyarakat, ketua lingkungan, serta unsur terkait lainnya.
Forum mediasi tersebut diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi bersama sekaligus memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pelajar di luar jam sekolah. Melalui keterlibatan seluruh elemen, diharapkan dapat dirumuskan langkah-langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
“Kami ingin penyelesaian persoalan ini tidak hanya berhenti pada aspek penegakan hukum, tetapi juga melalui pembinaan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan aparat sangat penting dalam mengawasi serta membimbing anak-anak agar tidak terlibat dalam tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain,” tegas IPTU Putri Tristiyowati.
Peristiwa tawuran pelajar di Kemiling kembali menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap remaja membutuhkan keterlibatan bersama. Di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial yang memudahkan koordinasi antarkelompok, penguatan pendidikan karakter, komunikasi yang intensif antara sekolah dan orang tua, serta pembinaan di lingkungan masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah konflik antarpelajar.
Pemerhati pendidikan menilai bahwa tawuran bukan hanya persoalan pelanggaran disiplin, melainkan juga mencerminkan perlunya ruang dialog, pendampingan psikologis, dan aktivitas positif bagi generasi muda. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi seluruh pihak agar lingkungan pendidikan tetap aman, kondusif, dan mendukung tumbuh kembang pelajar sebagai generasi penerus bangsa.(**)




